Belajar Toleransi dari
Para Ulama.
Kisah lainnya yang juga menarik untuk ditampilkan sebagai teladan yang sangat baik dalam menjaga dan merawat perbedaan dalam sebuah agama adalah kisah kedua ulama NU dan Muhammadiyah yang sangat menghormati satu sama lain.

Dikisahkan ketika dua pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Buya Hamka sebagai ulama dari Muhammadiyah dan Kiai Idham Chalid dari Nahdlatul Ulama (NU) berangkat berhaji secara bersamaan. Di dalam perjalanan dengan kapal laut, sering terjadi shalat jamaah bersama dan mereka berdua kadang bergantian menjadi imam shalat. Ketika Kiyai Idham Khalid menjadi imam shalat subuh dia tidak membaca do’a qunut karena di belakang dia ada Buya Hamka bersama jamaah Muhammadiyah yang tidak melakukan qunut pada shalat subuh. Sebaliknya demikian, ketika Buya Hamka menjadi imam shalat subuh, justru dia melakukan qunut karena di antara jamaah ada Kiyai Idham Khalid dan jamaah NU lainnya sebagai makmumnya.

Kiyai Idham Cholid merupakan ulama dan pimpinan NU yang mempunyai tradisi membaca doa qunut pada shalat subuh. Namun, ketika menjadi imam shalat subuh, beliau tidak membacanya demi menghormati sahabatnya Buya Hamka dan para pengikutnya. Padahal, dalam pandangan orang-orang NU membaca doa qunut dalam shalat subuh adalah sunah muakkad. Inilah bukti betapa para ulama memiliki pandangan yang sangat toleran dan menghormati pandangan orang lain. Sementara itu, Buya Hamka, yang tidak melakukan qunut pada shalat subuh justru membaca doa qunut saat mengimami shalat subuh dengan alasan yang sama. Mereka malah berpelukan mesra setelah shalat, saling menghormati, dan saling berkasih sayang.

Sumber: www.sangpencerah.com
http://metroislam.com
Copyrigh © 2017 Subair STAIN Parepare
Kembali ke Materi